sajak ini saya dedikasikan untuk mereka yang mengeluh akan kehidupan yang semestinya di syukuri.
Langit hitam tuhan telah menghujam dari segala penjuru tata surya, mana mungkin itu terjadi sedangkan rotasi bumi hanya berpijak bagi sebelah daratan lainya:Namun ku syukuri sejak mata ini enggan terlelap dan mentari tersungkur dari orbit nya, aku catatkan garis cerita hidupku bersama berjuta peristiwa bahgia, sejahtera, suka cita, susah, gagal, dan segala yang telah bertumpuk dan menjadi prosa yang ku simpulkan sendiri, bagaikan secangkir kopi yang ku regut malam ini, rasanya pahit namun setelah sampai di tenggorokanku yang tak mampu berucap rasanya menjadi manis, layaknya kehidupanku yang terus berlalu lalang , kadang merasa diri ini luar biasa, namun setelah kutinggalkan secarik kertas ini dan mulai berdiri di atas terang ku rasakan kehandalanku dalam berkata mutiara seakan hilang.
Apa persoalan yang ku hadapi ?
Apakah kerisauan malam ini? Namun ku rasa tidak ada
Kebahagiankah yang ku rasa ? jawabanya masih tetap sama, yang berbeda hanya aku, dirimu dan orang di sekitarku yang menganggap tidaklah perlu melakukan hal ini.
Oo yah aku tahu, ini mungkin karena kebahagianku terlampau banyak untuk ku nikmati sendiri, lalu kebahagian apa?
Ku fikirkan lebih matang bagai seorang pencuri yang memikirkan bagaimana aksinya tidak dapat di pergoki, atau seeokor singa yang mempertimbangkan antara berlari terlebih dahulu atau mencengkram mangsanya dari dekat., kemudian aku temukan jawabanya saat melamuni masa depan , sebelum berkesimpulan aku bertanya pada tuhan; hanya karena seulas sepi dan karunia kebahagiaan yang ku genggam sendiri, haruskah aku berarsitek dengan garismu ya rabb ?
Sesaat kemudian aku melihat sebatang pohon mangga, dan aku berfikir “sia-sia lah pohon itu berbuah tanpa ada yang memetik buahnya” , kau tahu ? inilah kesimpulanya !
kebahagiaan ini ku rasa terlampau berlebihan, sedang aku tak dapat membaginya .
terdiam sejenak, inspirasi alam berdatangan secara tiba-tiba , karunia tuhan telah melingkup dan mencangkup seisi kepalaku sampai berbuih dan aku bercakap sendiri , “ini hidupku, dan hidupku bukan hak-ku, ini takdirku, dan takdirku bukanlah aku yang mengatur, aku di ciptakan sebagai makhluk yang kosong dan berperangai cengeng, sejak telapak kakiku menyentuh bagian dari alam ini aku memang sudah di tekdirkan untuk menangis terlebih dahulu, tentu tak mungkin aku lahir dengan tawa menggemaskan seorang bayi mungil pada saat itu, hidup ini berawal dari ketidak berdayaan dan ketelanjangan dan berakhir juga demikian.”
aku si miskin yang tak punya genggaman, lalu apakah patut aku memintanya dari tuhanku, tentu tidak segalanya, karena akupun tak pernah meminta untuk di ciptakan, di lahirkan, di hidupkan , hingga di besarkan.
setelah inspirasi hidup yang bagaikan wahyu itu telah berkelip dan mulai menghilang bagai sebuah asap yang tertiup angin , aku mulai bercerita pada jiwaku, diriku, hatiku, perasaanku dan pemikiranku, dengarlah bibirku yang mana kalam ini adalah bagian dari prajurit kerajaan kalian;
kau aku dirimu kalian dan ruh yang telah di titipkan tidaklah pantas menjadi tuan bagi budak takdir yang telah di gariskan tuhan, melampaui batas kesahajaan, merasa berharga dan mengurai hidupku paling penting di banding tanah liat dan tulang rusuk berisikan ruh lainya.
ternyata aku sama dengan khlayak ciptaanmu yang lain wahai rabb-ku Allah Subhanahu Wata’ala.
Seutas benang takkan pernah menjadi sutra tanpa tukang tenun nya, kehidupan manusia dengan takdirnya takkan pernah bisa saling menghindar satu sama lain, mana kala aku harus terjatuh dan catatanya telah tergores dalam takdirnya maka aku harus jatuh, dan mana kala aku harus berdiri saat itu juga tetapi dalam laul mahfudz-nya tergaris aku takkan mampu, maka merangkak lah aku dalam ketidakmampuan.
seulas harapan tertitih di malam ini, bermula dari kalbu yang tersusun lewat kata yang tertuang dari organ putih di kepalaku; aku telah sadar atas semua karunia tuhan bersama catatan-nya, aku takkan pernah bisa mengubahnya sekalipun aku mencari sumber catatan itu ke seluruh jagat raya untuk menghapus tinta buruk hidupku.
Kehidupan : kebahagiaan, kesenangan, kesedihan, keberhasilan, kegagalan, kekecewaan, sehat, sakit, dan kematian.
semua telah telah tercangkup dalam tiap-tiap cabang takdir, manusia takkan pernah bisa menghindar dan menghalaunya sekalipun ilmu, materi, prajurit perang atau tenaga nuklir mereka sokong menjadi satu benteng pertahanan, tidaklah perlu meminta untuk di hindarkan dari takdir buruk atau kesialan, hanya perlu meminta untuk di kuatkan, jika saja mereka tahu bahwa di balik semua keburukan terdapat berjuta warna keindahan hidup serta kedamaian, tentulah mereka akan lebih senang senang dengan buruknya nasib mereka.
;selesailah aku bercakap gurau dengan jiwaku, hatiku, perasaan serta pemikiranku.
risau yang sebelumnya melanda hanya karena sepi sekejap lenyap meninggalkan benak prasangka buruk mengenai takdir diri ini, dini hari hingga fajar merekah baru lah aku sadar bahwa sepi ku ini hanyalah pemahaman bodoh tentang kegalauan remaja, aku merasa tolol dengan mengedepankan sosok makhluk yang menjadi tulang rusuku, padahal tuhan takanlupa dengan janji-nya bahkan ia sangatlah selektif memilihkanya untukku.
;gadisku, tulang rusuk ku, bidadari dunia ku, jiwa serta darah biru ku, aku menunggu engkau yang masih dalam naungan yang keindahan juga kesucianya masih dalam penjagaan tuhanku, aku menunggu akan hadirmu, aku merindumu dalam setiap langkah kemanapun yang aku tuju, aku menantimu memanjakanku lewat kata-kata lembutmu.
datanglah dan bertemulah denganku, isi tulang rusuku, dan lengkapilah sekeping hati ini yang membutuhkan kepingan hatimu.
penulis; muhammad nazar