BILANGAN PRIMA
Jika p bilangan bulat, p¹0 dan p¹1 hanya mempunyai pembagi 1 dan p, maka p disebut bilangan prima. Bilangan bulat selain
bilangan prima disebut bilangan komposit.
Contoh
bilangan-bilangan prima: 2, 3, 5, 7, 11,
13, 17, 19, 23, 29, 31, 37, …. Contoh bilangan-bilangan komposit: 4, 6, 8, 9,
10, 12, 14, 15, 16, 18, 20, 21, 22, 24, 25, 26, 27, 28, 30, 32, 33, 34, 35, 36,
…
Teorema: Jika p
prima dan pï(a.b), maka pïa atau pïb.
PEMBAGI
Bilangan bulat a
adalah pembagi dari b (a¹0), jika ada bilangan bulat c sedemikian
sehingga b=a.c. Simbol: aïb. Bilangan bulat b disebut kelipatan dari a
dan bilangan a disebut faktor dari b.
Contoh: 3ï12, -3ï6, aï0.
KAWAN (ASSOCIATES)
Dua bilangan bulat tak nol, a dan b adalah sekawan, jika aïb dan bïa. Contoh: bilangan bulat a dan –a.
FPB (Faktor
Persekutuan terBesar)
Jika aïb dan aïc, maka a disebut faktor
persekutuan dari b dan c (a¹0). Contoh: 2ï8 dan 2ï12, maka 2 adalah faktor persekutuan 8 dan 12.
Bilangan bulat d (d¹0) disebut FPB dari a dan
b, jika memenuhi dua syarat:
1.
dïa dan dïb.
2.
setiap faktor persekutuan dari a dan b adalah
pembagi dari bilangan bulat d.
Contoh:
Carilah FPB dari 595 dan
252.
Kelipatan
Persekutuan terKecil (KPK)
Perhatikan kelipatan dari
12, yakni 12, 24, 36, 48, 60, 72, …
Perhatikan kelipatan dari
18, yakni 18, 36, 54, 72, 90, …
Perhatikan juga bahwa
kelipatan persekutuan antara 12 dan 18 adalah 36, 72, …., dan bahwa kelipatan
persekutuan yang terkecil adalah 36.
Cobalah cari FPB dan KPK dari 12 dan 18 dengan cara
faktorisasi prima. Juga FPB dan KPK dari 595 dan 252.
ALGORITMA
PEMBAGIAN
Jika a sembarang
bilangan bulat dan b¹0, maka ada dua bilangan bulat q dan r,
sedemikian sehingga a=b.q+r. Dalam hal ini a disebut yang dibagi, b disebut pembagi, q disebut hasil bagi, dan r
> 0 disebut sisa
pembagian.
Contoh-contoh:
13 = 5*2 + 3.
Bilangan 13 disebut yang dibagi, 5 adalah pembagi, 2 adalah hasil bagi, dan 3
adalah sisa pembagian.
ALGORITMA
EUCLID
Algoritma Euclid digunakan untuk mencari FPB dua buah
bilangan bulat (positif) a dan b.
Prosesnya:
a = b.q1
+ r1
b = r1.q2
+ r2
r1
= r2.q3
+ r3
r2
= r3.q4
+ r4
…….
…….
rk
= rk+1.qk+2
+ 0
Maka FPB = rk+1.
Contoh:
FPB dari 595 dan 252.
595 = 252.2 + 91
252 = 91.2 + 70
91 = 70.1 + 21
70 = 21.3 + 7
21 = 7.3 + 0
FPB = 7
Cobalah nyatakan 7 sebagai
kombinasi linier dari 595 dan 252.
FAKTORISASI
UNIK
Teorema:
Setiap bilangan bulat n,
yang lebih besar dari pada satu, dapat dituliskan secara unik sebagai hasil
kali dari bilangan-bilangan prima, kecuali urutannya.
KONGRUEN
MODULO
Dari contoh di
atas, 13 dibagi 5 memberikan hasil bagi 2 dengan sisa pembagian 3. Dengan kata
lain: 13 mod 5 = 3, atau 13 º 3 (mod 5); dibaca: 13 kongruen dengan 3
modulo 5.
Contoh lain: 26
mod 5 = 1, atau 26 º 1 (mod 5); dibaca: 26 kongruen dengan 1
modulo 5.
Buktikan relasi
“kongruen modulo” adalah relasi ekuivalen.
KELAS
EKUIVALEN
Misalkan A
himpunan tak kosong, dan R relasi ekuivalen pada A. Misalkan aÎA. Elemen xÎA yang memenuhi xRa atau (x,a)ÎR akan membentuk suatu subset Aa dari A yang disebut kelas
ekuivalen.
Notasi: Aa
= [a] = {x / xÎA, (x,a)ÎR}.
Contoh:
·
A = {segitiga pada suatu bidang rata} dan R
adalah relasi ekuivalen “x sama dan sebagun dengan y”. Ambillah aÎA suatu segitiga. Kelas
ekuivalen [a] adalah himpunan semua segitiga di A yang sama dan sebangun dengan
segitiga a.
·
Misalkan Z={bilangan bulat}, Z0
adalah himpunan
bilangan-bilangan bulat yang habis dibagi 5, Z1 adalah himpunan
bilangan-bilangan bulat yang bila dibagi 5 bersisa 1, Z2 adalah bilangan-bilangan
bulat yang bila dibagi 5 bersisa 2, Z3 adalah bilangan-bilangan
bulat yang bila dibagi 5 bersisa 3, dan Z4 adalah bilangan-bilangan
bulat yang bila dibagi 5 bersisa 4.
Z0
= { …, -10, -5, 0,
5, 10, …}
Z1
= { …, -9, -4, 1, 6,
11, … }
Z2
= { …, -8, -3, 2, 7,
12, … }
Z3
= { …, -7, -2, 3, 8,
13, … }
Z4 = {
…, -6, -1, 4, 9, 14, … }
Sifat-sifat
Kelas Ekuivalen
1.
Gabungan seluruh kelas ekuivalen = A
2.
Dua kelas ekuivalen adalah sama, atau saling
lepas.
3.
Relasi ekuivalen R membentuk partisi dari A;
sebaliknya, partisi mendefinisikan relasi ekuivalen di A.
Contoh:
Perhatikan Z0,
Z1,
Z2, Z3,
dan Z4 dari contoh di atas, bila digabungkan akan menjadi Z, yakni himpunan
bilangan bulat. Z0, Z1, Z2, Z3, dan Z4
adalah saling lepas dan membentuk partisi pada himpunan bilangan bulat Z.
HIMPUNAN
KUOSIEN (QUOTIENT SET)
Misalkan A
himpunan tak kosong dan R relasi ekuivalen pada A. Notasi A/R = adalah himpunan
kelas-kelas ekuivalen yang saling lepas.
Contoh:
Z = {bilangan bulat} dan R
adalah relasi ekuivalen “kongruen modulo 5”. Z/R = {Z0, Z1, Z2, Z3,
dan Z4} = {[0], [1], [2], [3], [4]}.
OPERASI BINER
Misalkan A
himpunan tak kosong. Operasi biner pada himpunan A adalah pemetaan f: AxA®A sebagai berikut a*b=c, cÎA, untuk sembarang a,bÎA. Operasi biner sering disebut komposisi biner.
Dengan kata lain,
produk (dinotasikan dengan *) dari dua buah elemen sembarang di A akan
menghasilkan elemen di A lagi (tertutup terhadap operasi *).
Contoh:
·
Penjumlahan dua buah bilangan bulat sembarang
akan menghasilkan bilangan bulat lagi, sehingga penjumlahan adalah operasi
biner pada himpunan bilangan bulat.
·
Perkalian dua buah bilangan riil sembarang
akan menghasilkan bilangan riil lagi, sehingga perkalian adalah operasi biner
pada himpunan bilangan riil.
OPERASI
KOMUTATIF
Operasi * bersifat
komutatif pada himpunan A, jika berlaku a*b = b*a, untuk setiap a,b Î A.
OPERASI
ASOSIATIF
Operasi * bersifat
asosiatif pada himpunan A, jika berlaku a*(b*c) = (a*b)*c, untuk setiap a,b,c Î A.
OPERASI
DISTRIBUTIF
Operasi * bersifat
distributif atas operasi Å pada himpunan A jika:
a*(bÅc) = (a*b) Å (a*c), untuk setiap a,b,c Î A (distributif kiri) dan
(a*b)Åc = (aÅc) * (bÅc), untuk setiap a,b,c Î A (distributif kanan)
HIMPUNAN-HIMPUNAN
ISOMORFIS
Himpunan S dan T isomorfis, jika:
1.
Ada korespondensi 1-1 antara S dan T
2.
Setiap relasi (operasi) pada S dan T tetap
terpelihara dalam korespondensi tersebut.
Contoh:
S = {0, 1, 2, 3} dengan
operasi tambah modulo 4, dan T = {1, 2, 3, 4} dengan operasi kali modulo 5
adalah isomorfis. Korespondensi 1-1 nya adalah 0®1, 1®3, 2®4, 3®2. Perlihatkan dengan
tabel.
UNSUR KESATUAN
KIRI ADITIF
Elemen eÎA yang bersifat e + a = a untuk
setiap aÎA, disebut unsur kesatuan kiri aditif. Contoh:
·
bilangan 0 pada operasi tambah bilangan
bulat, 0+a=a
·
unsur air pada reaksi kimia, H2O +
HCl tidak bereaksi, hanya mengencerkan HCl
·
himpunan Æ pada operasi gabung “È”, yakni Æ È A = A
UNSUR KESATUAN
KANAN ADITIF
Elemen eÎA yang bersifat a + e = a untuk
setiap aÎA, disebut unsur kesatuan kanan aditif. Contoh:
·
bilangan 0 pada operasi tambah bilangan
bulat, a + 0 = a
·
unsur air pada reaksi kimia, HCl + H2O
tidak bereaksi, hanya mengencerkan HCl
·
himpunan Æ pada operasi gabung “È”, yakni A È Æ = A
UNSUR KESATUAN
ADITIF
Elemen eÎA yang bersifat a + e = e + a = a, untuk setiap aÎA, disebut unsur kesatuan aditif. Contoh:
·
bilangan 0 pada operasi tambah bilangan
bulat, 0+a=a+0=a
·
unsur air pada reaksi kimia, H2O +
HCl atau HCl + H2O tidak bereaksi, hanya mengencerkan HCl
·
himpunan Æ pada operasi gabung “È”, yakni A È Æ = Æ È A = A
UNSUR KESATUAN
KIRI MULTIPLIKATIF
Elemen eÎA yang bersifat e * a = a, untuk setiap a ÎA, disebut unsur kesatuan kiri
multiplikatif. Contoh:
·
bilangan 1 pada operasi kali bilangan riil,
yakni 1 * a = a
·
himpunan semesta pada operasi irisan “Ç”, yakni U Ç A = A
UNSUR KESATUAN
KANAN MULTIPLIKATIF
Elemen xÎA yang bersifat a * e = a, untuk setiap a ÎA, disebut unsur kesatuan kanan
multiplikatif. Contoh:
·
bilangan 1 pada operasi kali bilangan riil,
yakni a*1=a
·
himpunan semesta pada operasi irisan “Ç”, yakni A Ç U = A
UNSUR KESATUAN
MULTIPLIKATIF
Elemen eÎA yang bersifat a * e = e * a = a, untuk
setiap a ÎA, disebut
unsur kesatuan multiplikatif. Contoh:
·
bilangan 1 pada operasi kali bilangan riil,
yakni 1*a = a*1 = a
·
himpunan semesta pada operasi irisan “Ç”, yakni U Ç A = A Ç U = A
INVERS ADITIF
KIRI
Elemen xÎA yang bersifat x + a = 0, untuk setiap aÎA, disebut invers aditif kiri dari a.
Contoh:
bilangan bulat –a adalah
invers aditif kiri dari bilangan bulat a dengan operasi tambah, yakni –a + a =
0.
INVERS ADITIF
KANAN
Elemen xÎA yang bersifat a + x = 0, untuk setiap aÎA, disebut invers aditif kanan dari a.
Contoh:
bilangan bulat –a adalah
invers aditif kanan dari bilangan bulat a dengan operasi tambah, yakni a + (-a)
= 0.
INVERS ADITIF
Elemen xÎA yang bersifat a + x = x + a = 0, untuk
setiap aÎA, disebut invers aditif dari a.
Contoh:
bilangan bulat –a adalah
invers aditif dari bilangan bulat a dengan operasi tambah, yakni a + (-a) =
(-a) + a = 0.
INVERS
MULTIPLIKATIF KIRI
Elemen x yang bersifat x * a = 1, disebut invers
multiplikatif kiri dari a.
Contoh:
Bilangan riil 1/a adalah invers
multiplikatif kiri dari bilangan riil a¹0, yakni 1/a * a = 1.
INVERS
MULTIPLIKATIF KANAN
Elemen x yang bersifat a * x = 1, disebut invers
multiplikatif kanan dari a.
Contoh:
Bilangan riil 1/a adalah invers multiplikatif
kanan dari bilangan riil a¹0, yakni a * 1/a = 1.
INVERS
MULTIPLIKATIF
Elemen x yang bersifat x * a = a * x = 1, disebut invers
multiplikatif.
Contoh:
Bilangan riil 1/a adalah invers
multiplikatif dari bilangan riil a¹0, yakni 1/a * a = a * 1/a = 1.
ARITMETIKA MODULAR
Definisi:
Bilangan bulat a ~ b,
yakni a kongruen dengan b modulo m, jika mï(a-b), atau dengan simbol:
aºb (mod m).
Buktikan bahwa relasi
kongruen modulo m adalah relasi ekuivalen.
Aplikasi Kongurensi
1. Bilangan acak semu (Pseudorandom
Number)
Formula: xn+1
= (a.xn + c) (mod m).
Adapun a =
pengganda (multiplier), c=pertambahan
nilai (increment), dan x0
= seed.
2£a<m,
0£c<m,
0£x0<m.
Contoh:
Carilah
bilangan-bilangan acak untuk m=9, a=7, c=4 dan x0=3. Perhatikan
bilamana terjadi perulangan?
Kebanyakan
komputer menggunakan c=0 (pure
multiplicative generator), m = 231-1 dan a = 75 =
16807. Akibatnya, 231-2 bilangan dihasilkan sebelum terjadi
perulangan.
2. Kriptologi (cryptology)
Cipher Julius Caesar: (p+3) mod 26.
A
|
B
|
C
|
D
|
E
|
F
|
G
|
H
|
I
|
J
|
K
|
L
|
M
|
0
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
N
|
O
|
P
|
Q
|
R
|
S
|
T
|
U
|
V
|
W
|
X
|
Y
|
Z
|
13
|
14
|
15
|
16
|
17
|
18
|
19
|
20
|
21
|
22
|
23
|
24
|
25
|
Enkripsikan
“MEET YOU IN THE PARK”, kemudian dekripsikan kembali.
3. Teorema Sisa
Cina (Chinese Remainder TheoremI)
Definisi:
·
a.xºb (mod m) disebut kongruensi
linier. Variabel x akan dicari, sedangkan a dan b adalah bilangan-bilangan
bulat.
·
Jika ada bilangan bulat a’
sedemikian rupa sehingga a’.aº1
(mod m), maka a’ disebut invers dari
a.
Teorema:
Jika a dan m bilangan-bilangan bulat yang relatif prima,
dan m>1, maka invers dari a (mod m) ada.
Contoh:
·
Carilah invers dari 3 (mod
7)
·
Carilah solusi dari 3xº4
(mod 7)
Bilangan-bilangan
bulat positif m1, m2, m3, …, mn
adalah relatif prima sepasang-sepasang, artinya FPB (mi,mk)
= 1, untuk sembarang i dan k, i¹k.
Sistem
Persamaan Modulo:
x º a1
(mod m1)
x º a2
(mod m2)
x º a3
(mod m3)
…..
x º an
(mod mn)
Sistem
persamaan tersebut mempunyai solusi unique modulo m=m1.m2.m3….mn.
Ada solusi x dengan 0£x<m,
dan semua solusi lain adalah kongruen modulo m dengan solusi ini.
Mk =(m/mk),
yk = invers dari Mk, (mod m)
Contoh:
Sun-Tsu
menyampaikan suatu problem: “suatu bilangan, bila dibagi dengan 3, akan bersisa
2, dan bila dibagi dengan 5 akan bersisa 3 dan bila dibagi dengan 7 akan
bersisa 2. Bilangan manakah itu?