“
Akhlak madzmumah adalah tingkah laku yang tercela atau perbuatan
jahat yang merusak iman seseorang dan menjatuhkan martabat manusia.”
Sifat yang termasuk akhlak mazmumah adalah segala sifat yang
bertentangan dengan akhlak mahmudah, antara lain: kufur, syirik,
munafik, fasik, murtad, takabbur, riya, dengki, bohong, menghasut,
kikil, bakhil, boros, dendam, khianat, tamak, fitnah, qati’urrahim,
ujub, mengadu domba, sombong, putus asa, kotor, mencemari lingkungan,
dan merusak alam.
Demikianlah antara lain macam-macam akhlak mahmudah dan madzmumah.
Akhlak mahmudah memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain,
sedangkan akhlak madzmumah merugikan diri sendiri dan orang lain. Allah
berfirman dalam surat At-Tin ayat 4-6.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan mereka ke tempat yang
serendah-rendahnya (neraka). Kecuali yang beriman dan beramal shalih,
mereka mendapat pahala yang tidak ada putusnya.”
Akhlak kepada Allah, meliputi antara lain: ibadah
kepada Allah, mencintai Allah, mencintai karena Allah, beramal karena
allah, takut kepada Allah, tawadhu’, tawakkal kepada Allah, taubat, dan
nadam.
Akhlak kepada Rasulullah saw., meliputi antara lain: taat dan cinta kepda Rasulullah saw.
Akhlak kepada keluarga, meliputi antara lain: akhlak
kepada ayah, kepada ibu, kepada anak, kepada nenek, kepada kakek,
kepada paman, kepada keponakan, dan seterusnya.
Akhlak kepada orang lain, meliputi antara lain: akhlak kepada tetangga, akhlak kepada sesama muslim, kepada kaum lemah, dan sebagainya.
Akhlak kepada lingkungan, meliputi antara lain: menyayangi binatang, merawat tumbuhan, dan lain-lain.
Berdasarkan petunjuk ajaran Islam dijumpai berbagai macam akhlak yang
tercela, di antaranya:
A.Hasud
- Hasud artinya merasa tidak senang jika orang lain mendapatkan
kenikmatan dan berusaha agar kenikmatan tersebut cepat berakhir dan
berpindah kepada dirinya, serta merasa senang kalau orang lain mendapat
musibah.
1. Hasud yang terlarang
Adalah hasud terhadap kenikmatan yang dimiliki orang lain, sehingga menimbulkan kedengkian, dll
Dalam kehidupan sehari-hari hal ini sering terjadi sehingga dengan
ketidaksenangan tersebut dapat mengakibatkan timbulnya perbuatan tercela
yang lainnya misalnya : Timbul kebencian, permusuhan, mencelakakan
orang lain, merampok, menghancurkan hak milik orang lain dll.
2. Hasud yang diperbolehkan
Adalah hasud kepada orang lain dalam hal : jika seseorang diberi
harta benda kemudian dibelanjakan dijalan Allah Swt, dan jika seseorang
diberi ilmu oleh Allah kemudian diamalkannya.
3. Penyebab pokok hasud adalah :
a. Kalah bersaing dalam merebut simpati orang atau dalam usaha.
b. Sifat kikir yang berlebihan
c. Cinta dunia dan sejenisnya.
d. Merasa sakit jika orang lain memiliki kelebihan
e. Tidak beriman kepada qadha dan qadar.
4. Akibat hasud
Nabi Muhammas saw bersabda :”Waspadalah terhadap hasud “sesungguhnya hasud mengikis pahala sebagaimana api memakan kayu
Orang hasud telah menentang
Allah s.w.t. dengan lima hal iaitu:
- Kerana ia membenci nikmat Allah s.w.t. terhadap orang lain
- Dia tidak suka pembahagian Allah s.w.t. untuk dirinya seolah-olah ia berkata: “Mengapa Engkau membagi begini?”
- Ia bakhil terhadap kurniaan Allah s.w.t.
- Dia membantu kepada iblis laknatullah
5. Cara menghindari hasud
- a. Menumbuhkan kesadaran bahwa permusuhan dan kemarahan akan membawa petaka dan kesengsaraan baik lahir maupun bathin.
- b. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.
- c. Jadilah orang yang mempunyai pendirian tidak mudah di provokasi.
- d. Mengamalkan ajaran agama.
B. Sifat Riya
Riya artinya memperlihatkan perbuatan (ibadah) kepada orang lain agar
disanjung atau dipuji. Maksud lain adalah beribadah dengan niat karena
ALLAH dan karena ingin dilihat, disanjung atau dipuji manusia. Hakikat
riya sebenarnya ada dalam hati, dan tidak selamanya ditunjukkan dalam
perbuatan, karena ada orang yang menunjukkan perbuatannya dengan niat
memberi contoh. Oleh karena itu hanya Allah-lah yang dapat menilai
apakah perbuatan tersebut mengandung riya atau tidak ?
1. Jenis Riya
- Riya dalam niat
Riya ini muncul ketika mengawali suatu pekerjaan. Seseorang yang akan
melakukan ibadah berkeinginan untuk mendapatkan pujian dan sanjungan
manusia
- Riya dalam perbuatan
Yaitu riya orang yang selalu memperlihatkan ketekunan beribadah bukan
karena sedang member contoh atau bukan diwaktu saat orang banyak
melakukannya.
2. Bahaya Riya
Penyakit ini termasuk jenis penyakit yang sangat berbahaya karena bersifat lembut (samar-samar) tapi berdampak luar biasa.
“Kecelakaan bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, dan orang-orang yang berbuat riya’,
Bahaya Riya’ bagi Amal Perbuatan :
- Menyia nyiakan amal shalih, dari pengaruh baiknya dan tujuan luhurnya.
- Riya’ adalah syirik khafi.
- Riya’ mewariskan kehinaan dan kekerdilan.
- Riya’ menghalangi pahala akhirat.
- Riya’ menambah kesesatan
3. Cara menghindari riya
Sudah diketahui bahwa bahaya riya sangatlah besar, dan kita sebagai
umat muslim sudah selayaknya untuk menghindari perbuatan riya tersebut,
diantaranya adalah dengan cara :
Mempersiapkan niat hanya karena Allah saja, tidak menampakkan ibadah
kecuali untuk memberi contoh dan diwaktu orang banyak melakukannya.
Beberapa perbuatan yang tidak termasuk riya
1. Seseorang yang beramal dengan ikhlas, namun mendapatkan
pujian dari manusia
tanpa ia kehendaki.
2. Seseorang yang memperindah penampilan karena keindahan Islam.
3. Beramal karena memberikan teladan bagi orang lain.
4. Bukan termasuk riya’ pula bila ia semangat beramal ketika berada
ditengah orang-orang yang lagi semangat beramal. (tak ke-gua)
C. Aniaya
Aniaya artinya dzolim yaitu meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.
Dengan demikian orang lain diperlakukan secara tidak sesuai dengan
semestinya.
Perbuatan aniaya dapat dikelompokkan ke dalam 2 kelompok yaitu :
Aniaya pada diri sendiri, yaitu berlaku zalim kepada diri sendiri,
misalnya tidak mengurus diri dengan baik, atau tidak melakukan perbuatan
yang seharusnya diperbuat oleh diri sendiri.
Aniaya pada orang lain, yaitu berlaku zalim kepada orang lain baik
dengan perkataan, perbuatan dll, baik terhadap manusia, binatang, maupun
tetumbuhan.
Cara menghindari aniaya
Dalam upaya menghindari perbuatan aniaya ini hendaknya kita
memperhatikan hak-hak diri sendiri, hak orang lain, hak binatang, alam,
dsb. Selain itu pula kita hendaknya takut kepada dosa, karena Allah swt
telah melarang kita berbuat aniaya, atau berbuat kerusakan di muka bumi
ini.
D. Diskriminasi
Diskriminasi artinya memandang sesuatu tidak secara adil dan memperlakukannya
pula secara pilih
kasih.Agar kita terhindar dari perbuatan diskriminasi ini perlu sekali
memahami tentang hak-hak dan kewajiban seseorang. Jika kita mau
melakukan diskriminasi, maka perhatikan dulu apakah dia memang berhak
atau tidak, jika memang berhak, maka kita harus mengurungkan diri untuk
berbuat diskriminasi.