Lahir seorang bayi laki-laki, buah hati
pertama dari sepasang orang tua baru yang membuat mereka sangat bersyukur dan bahagia.
Buah hati mereka diberi nama AKMAL LATHIF KHALIFAH (peminpin yang sempurna dan
lembut).
5 tahun berlalu sejak kelahiran akmal, ia
tumbuh dan di beri pendidikan dengan baik dari segi tumbuh kembangnya, akhlak dan agama oleh
kedua orang tuanya. Namun allah berkehendak lain, sang ayah wafat sehingga
ibunya menjadi orang tua tunggal. Akmal belum mengerti saat itu, ia hanya
melihat jasad ayahnya tanpa ia tahu bahwa ayahnya tidak akan pernah ada lagi
disisinya. Semenjak ayahnya wafat, ibunya yang merawat , mendidik, banting tulang
mencari rupiah untuk pendidikan akmal hingga saat dia masuk bangku perkuliahan…
Tapi sayang, semenjak akmal masuk bangku
perkuliahan, sifatnya menjadi berubah. Akmal yang dahulu anak baik, pintar
mengaji, rajin sholat, dan selalu hormat kepada ibunya tiba-tiba menjadi kasar,
urak-urakan dan tidak mau peduli dengan ibunya, entah apa yang merasuki pikiran
akmal, ia salah bergaul. Akmal masuk kedalam lingkungan teman-teman yang
membawanya menjadi seperti itu.
“ Nak, kamu darimana saja..pulang larut
seperti ini?” Ibunya menghampiri akmal seraya mengkhawatirkan anaknya yang
pulang jam 03.00 pagi. “Apa sih bu, ga usah urusin aku ! Aku udh gede bu ! Bukan
anak kecil lagi. Terserah aku dong mau pulang malem kek, pulang pagi kek, atau
ga pulang sekalipun, toh aku ini anak cowok, bebas !” Akmal berkata dengan nada
tinggi lalu pergi ke kamar. Hati sang ibu bergetar, namun ia tidak ingin
berlaku sama seperti yang akmal lakukan kepada dirinya, ia hanya bisa mendoakan
akmal “ Ya allah, mungkin hamba belum berhasil mendidik dia agar selalu berada
di jalan –Mu.. jangan hukum dia, sadarkanlah dia dengan segala kekhilafannya ya
allah”.
Kian hari akmal kian tidak terkendali. Selalu
membangkang saat ibunya menyuruh beribadah “ayo sholat, sebentar lagi mau habis
waktunya” , “ Hih, ibu jangan ngatur-ngatur aku, aku sudah bukan anak manja bu.”
Lalu akmal malah pergi keluar rumah. Sekali lagi ibunya hanya bisa memaafkan
perilaku anaknya dan tak henti berdoa setiap ia sholat untuk memohon
pertolongan dari allah subhanahu wa ta’ala.
Suatu ketika, ibu akmal sakit keras. Umurnya
sudah tidak lagi muda, tubuh yang renta membuat kondisi kesehatannya semakin
menurun dan akmal masih tetap bersikap tidak peduli kepadanya.
Allah subhanahu wa ta’ala ternyata mengabulkan
doa sang ibu. Hati akmal lambat laun menjadi luluh melihat kondisi ibunya yang
semakin parah. ia mulai peduli. Merawat, membawanya ke dokter, semenjak itu akmal
sama sekali belum pernah keluar rumah untuk urusan tidak jelas selain untuk
pergi kuliah.
Dengan nafas yang tersengal sang ibu
berwasiat,“ Akmal, anaku sayang…mungkin ibu tidak akan bisa terus mendampingi
kamu, penyakit ibu kian hari rasanya semakin parah, jika allah ternyata
mengambil nyawa ibu, ibu punya sesuatu untukmu, di lemari ibu ada kotak merah
yang terbungkus sarung bantal,nanti kamu ambil yah.”
“ ibu, jangan bicara seperti itu...ibu
pasti sembuh, akmal yakin. Maaf.. akmal selama ini banyak salah sama ibu, akmal
janji akan berubah bu.” Akmal menangis.
“ ibu selalu memaafkan kamu nak.” Sambil tersenyum
kepada anaknya. Tak lama kemudian mata ibu akmal terpejam. Akmal mengira ibunya
tertidur. Setelah berjam-jam berlalu, ibunya tidak kunjung bangun. Ternyata ia
wafat. Akmal tidak kuat menahan air mata yang mengalir begitu deras. Mendapati
ibunya terbujur kaku di tempat tidur.
Selesai pemakaman, akmal kembali ke
rumah. Mengambil kotak dilemari almarhumah ibunya. Saat dibuka, isi dalam kotak
tersebut adalah satu buah al quran, tasbih, sajadah dan sepucuk kertas yang
warnanya sudah mulai usang. Dibukalah kertas tersebut yang ternyata surat
berisi :
Untuk Akmal Lathif
Khalifah. Anak ayah dan ibu satu-satunya. Anak lelaki yang sangat ibu sayangi
dan ibu banggakan. Jika kamu membaca surat ini mungkin ibu sudah wafat. Nak,
ibu tidak punya harta warisan mewah yang bisa di berikan untukmu… tapi hanya
seperangkat alat sholat ini yang bisa ibu berikan. Sajadah ini agar kamu senantiasa
mendirikan sholat lima waktu, tasbih ini agar kamu senantiasa berdzikir kepada
sang maha pencipta, lalu al quran ini agar senantiasa kamu baca dan kamu
amalkan. Kelak kamu akan menjadi imam sekaligus pemimpin bagi keluargamu..ibu
berpesan jadilah imam dan peminpin yang baik, suami teladan dan bertanggung
jawab bagi anak-anak dan istrimu. Hargai dan sayangi istrimu kelak karena ia akan
menjadi ibu dari anak-anakmu..bimbinglah anak-anakmu agar kelak menjadi anak
yang sukses dan selamat dunia akhirat. Tanggung jawab seorang lelaki itu berat
nak, jangan kamu sia-siakan hidup yang hanya sebentar didunia. Kenikmatan dan
kebahagiaan duniawi hanya pajangan sesaat, janganlah kamu terlena..ingat kematian
akan datang tiba-tiba..
Sebagai lelaki kamu
akan memegang kendali dari segala prilaku anak-anak dan istrimu, karena mereka
juga nantinya yang membawamu ke jalan syurga atau neraka, berhati-hatilah..
Anaku sayang, jangan
pernah berpaling dari allah subhanahu wa ta’ala. Karena iman yang kuat akan
memudahkan jalan bagimu di akhirat nanti. Itu sebabnya ibu memberikan
seperangkat alat sholat sebagai bekal dan pegangan hidupmu. Sebagaimana nama
yang ibu dan ayah berikan, jadilah pemimpin yang sempurna dan lembut.
Membaca surat itu, akmal menangis
menyesali segala perbuatannya dahulu kepada ibunya.. ia pun berjanji pada diri
sendiri untuk selalu taat beribadah kepada allah subhanhu wa ta’ala dan
senantiasa mendoakan orangtuanya.
Catatan : mohon maaf apabila terjadi kesamaan nama dan
cerita, karena tidak disengaja