“ Keyakinan kita (ahlu
al–sunnah wa al-jama’ah) adalah tidak memuliakan seorang wali di atas
nabi, bahkan sebaliknya kita berkeyakinan bahwa satu orang Nabi lebih
mulia dari seluruh wali “ ( Imam Thohawi ) Adalah seorang Kyai yang
mendapat amanat sebuah jabatan yang bergengsi, akan tetapi yang sangat
disayangkan adalah pernyataan-pernyataannya yang sering kali terdengar
aneh, manuver-manuver politik nya sering membingungkan orang, alias
nggak jelas dan sulit di tebak, “ manuver politik seorang wali “ kata seorang pengikutnya.
Bahkan ketika secara jelas,
dia melakukan sebuah kesalahan fatal, masih ada saja yang menyeletuk: “
dia kan seorang wali , masak berbuat salah “ . Cara berpikir seperti ini
perlu diluruskan.
Sebagian lain mengaku, bahwa
dia mempunyai seorang guru, yang dalam satu waktu bisa berada di dua
tempat. Percayakah anda bahwa dia seorang wali Allah ? Bahkan diantara
mereka tidak bergeming sedikitpun ketika di bacok dengan pedang, apakah
itu pertanda bahwa dia mempunyai karomah ? Bahkan konon beberapa
diantara wali songo bisa merubah buah yang masih dipohon menjadi emas,
malah diantara mereka ada yang bisa berjalan di dalam tanah. Bagaimana
seorang muslim harus bersikap, ketika melihat fenomena di atas ?
Pengertian wali dan beberapa syaratnya
Wali di dalam ajaran Islam mempunyai banyak arti :
1/Wali berarti teman setia dan orang yang dipercaya Allah berfirman
يأبها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوي وعدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة وقد كفروا بما جاءكم من الحق
Wahai orang – orang yang
beriman janganlah engkau menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-
teman setia, yang kamu sampaikan kepada mereka ( berita –berita
Muhammad), karena rasa kasih sayang , padahal mereka telah ingkar
terhadap kebenaran yang datang kepadamu “ ( QS Al Mumtahanah : 1 )
2/Wali juga berarti pemimpin. Allah berfirman :
يأبها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضهم أولياء بعض
“ Wahai orang – orang yang
beriman , janganlah engkau menjadikan orang orang Yahudi dan Nashrani
sebagi pemimpin- pemimpin kamu, sebagian mereka adalah pemimpin sebagian
yang lain “ ( QS Al Maidah : 51 )
3/Wali juga berarti pelindung. Allah berfirman :
الله ولي الذين آمنوا يخرجهم من الظلمات إلى النور
“ Allah adalah pelindung orang –orang beriman , Yang mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju kepada yang terang “ ( QS Al Baqarah : 257 )
Dari keterangan di atas, kita
bisa mengambil kesimpulan bahwa Wali Allah adalah : “ Orang – orang yang
dekat kepada Allah , karena mereka menyerahkan diri kepada-Nya,
mengerjakan perintah- perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya(
menjadikan Allah sebagai pemimpin mereka ) , serta mereka akan
mendapatkan perlindungan dari Allah “ .
Sebagian ulama ada yang membagi Wali Allah menjadi dua kelompok :
a. Kelompok pertama yaitu orang- orang yang mendapatkan “ Wilayat al-‘Ammah
” ( perlindungan secara umum ) dari Allah . Mereka itu adalah
orang-orang Islam dan beriman , yang secara umum telah mendekatkan diri
dengan Allah, dan akan mendapatkan perlindungan dari Allah, walau mereka
kadang menjauh dari Allah, atau berbuat maksiat terhadapNya.
b.Adapun kelompok yang kedua adalah mereka yang akan mendapatkan “ Wilayat al-Khosoh
“ ( perlindungan secara khusus ) dari Allah swt. Menurut sebagian ulama
, mereka adalah orang - orang yang mengetahui Allah dengan segala
sifat-sifatNya, yang selalu mentaati segala perintah–Nya dan menjauhi
segala larangan-Nya, selalu menjaga dirinya supaya tidak terjerumus ke
dalam kesenangan yang melalaikan, dan segera bertaubat ketika berbuat
kesalahan “
Namun, orang yang mendapatkan “Wilayat al-Khosoh
“ diatas, sebenarnya tidaklah terbatas apa yang di terangkan di atas ,
artinya : bahwa orang yang mengetahui Alloh dan sifat-sifat-Nya saja,
belumlah cukup untuk mendapatkan “Wilayat al-Khosoh “ dari
Allah. Karena ada satu unsur penting yang belum disebutkan pada
pengertian di atas , padahal unsur tersebut sering disinggung oleh para
ulama.
Untuk mengetahui satu unsur penting tersebut, kita mencoba menyelusurinya, disela- sela pernyataan Hasan Basri, seorang ulama yang amat piawi pada zaman tabi’in. Beliau pernah mengatakan : “ Ilmu
itu ada dua ; ilmu yang di lidah, adalah sesuatu yang akan dimintai
pertanggung jawabannya di depan Allah, sedang yang kedua adalah ilmu yang di hati, inilah ilmu yang bermanfaat “ .Beberapa ulama salaf pun pernah mengatakan : “ Ulama
itu ada tiga macam ; Pertama : adalah mereka yang mengetahui tentang
Allah dan tentang perintah Allah, Kedua: adalah meeka yang mengetahui
tentang Allah tapi bodoh terhadap perintah-perintahNYa , Ketiga : adalah
mereka yang mengetahui perintah Allah tapi bodoh tentang Allah sendiri.
Yang terbaik adalah yang pertama “ .
Berpijak dari keterangan
diatas, kita katakan bahwa : seorang wali yang akan mendapatkan wilayah
khossoh , haruslah mempunyai ilmu yang memadai tentang Dienul Islam,
atau meminjam ungkapan Hasan Basri adalah menguasai ilmu tentang
hukum-hukum Allah. Tanpa bekal ini, tak mungkin seseorang bisa sampai
pada derajat wali. Kenapa ? Karena seseorang tidak akan menjadi hamba
yang dicintai Allah, kalau dia bodoh terhadap perintah-perintah-Nya.
Semangat di dalam beribadah saja tidak cukup untuk meraih gelar ini.
Kita lihat, umpamanya orang-orang Nasrani ( Kristen ) , mereka sangat
antusias di dalam beribadah, tetapi Allah menyebut mereka sebagai
orang-orang yang sesat ( Dhollin ) , seperti yang tercantum di
dalam surat Al Fatihah. Semangat, tapi bodoh hanya akan menghasilkan
orang- orang yang sesat saja. Sebaliknya, pintar tanpa semangat, hanya
akan menghasilkan orang-orang yang dimurkai Allah ( Al Maghdhubi ‘alaihim ) termasuk di dalamnya orang-orang Yahudi. Islam adalah agama penengah ( wasath
), agama yang telah menjadi saksi bagi umat-umat yang lainnya, agama
yang memperhatikan seluruh demensi kehidupan, agama yang ajarannya mampu
membuat kehidupan ini seimbang.
Wal hasil, ilmu adalah hal
yang sangat diperlukan bagi seorang yang ingin menjadi seorang wali.
Perhatikan sabda Rosulullah saw. :
ومن يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“ Barang siapa yang Allah menginginkan pada dirinya kebaikan, niscaya Allah akan memahamkan dia tentang ajaran agama. “ ( HR Bukhori Muslim )
Berkata Ibnu Hajar
ketika mengomentari hadits diatas : “ Mafhum hadits diatas menunjukkan,
bahwa barang siapa yang tidak mempelajari ajaran Islam atau paling tidak
tentang dasar-dasar agama dan masalah furu’ yang terkait, berarti dia
tidak akan mendapatkan kebaikan ( Fathul Bari 1/165 ) .
Hal ini dikuatkan juga dengan firman Allah :
ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولاهم يحزنون الذين آمنوا وكانوا يتقون
” Sesungguhnya para wali
Allah itu tidak ada ketakutan dalam diri mereka dan merekapun tidak
bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah serta
bertaqwa kepadaNya “ ( QS. Yunus : 62-63 )
Orang- orang yang bertaqwa
adalah orang yang mengerjakan perintah-perintah Allah dan menjauhi
segala laranganNya. Dan seseorang tidak akan bisa berbuat seperti itu,
kalau tidak mengetahui perintah-perintahNya serta bodoh terhadap
larangan-laranganNya.
Dari uraian di atas, akhirnya
kita bisa menyimpulkan, bahwa Wali Allah yang sebenarnya adalah seorang
muslim yang alim terhadap ajaran agamanya dan konsekwen, serta konsisten
dengan ilmu yang dimilikinya, siapapun dia, dan apapun kedudukannya.
Wallahu'alam