Ada beberapa kasus
yang perlu ditanggapi, diantaranya adalah kisah Khidir dengan nabi Musa.
Di dalam surat Al Kahfi disebutkan bahwa nabi Musa as pernah belajar
kepada Khidhir. Sebagian kaum muslimin yang berkeyakinan bahwa Khidhir
adalah seorang wali, mereka menyimpulkan bahwa seorang wali lebih afdhol
dari seorang nabi, dengan bukti nabi Musa belajar kepada Khidir.
Keyakinan ini, akhirnya berkembang lebih luas lagi dan menyebabkan
bermunculnya orang- orang yang mengaku dirinya wali Allah, bahkan
sebagian mereka sudah tidak mengakui ajaran Islam yang di bawa oleh nabi
Muhammad saw, karena beranggapan bahwa wali lebih utama dari nabi, dan
tidak perlu mentaati ajaran- ajarannya.
Sungguh keyakinan semacam itu
sangat menyesatkan, karena akan mengakibatkan rusaknya ajaran Islam ini.
Padahal menurut pemahaman Ahlu al-Sunnah wa al- Jama’ah bahwa nabi dan
rosul merupakan manusia yang paling utama dan mulia di sisi Allah swt.
Untuk lebih jelasnya, kami sebutkan di bawah ini, urutan umat manusia
yang paling utama sejak awal diciptakannya, hingga hari kiamat
kelak-berdasarkan pendapat para Ulama Ahlu Sunnah- :
1-Urutan Pertama adalah para
rosul dan nabi adalah kelompok manusia yang paling mulia di sisi Allah,
bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa mereka lebih mulia dari para
Malaikat. Diantara para rosul dan nabi tersebut, terdapat Ulul Azmi ( Nabi Muhammad saw, Isa as, Musa as, Ibrahim as, Nuh as)
mereka itu, adalah orang – orang yang terbaik di antara para nabi dan
rosul. Dan Nabi Muhammad saw adalah yang terbaik diantara ulul azmi
sekaligus sebagai pemimpin para nabi dan rosul.
2.Setelah itu, baru para wali
Allah. Dan kelompok Wali Allah yang paling baik dalam sejarah manusia
adalah para sahabat Rosulullah saw . Diantara para sahabat tersebut, Abu
Bakar As-Siddiq adalah yang terbaik. Kemudian Khulafa Rosyidin
sesudahnya yaitu : Umar bin Khottob ra, Utsman bin Affan ra, serta Ali
bin Abi Tholib ra)
Barangkali diantara kita ada
yang bertanya, kalau begitu di mana Khiddhir as di dalam urutan- urutan
tersebut ? Bagaimana dengan wali-wali Allah yang lainnya, khususnya yang
sangat dikenal oleh masyarakat awam ? Dan bagaimana dengan wali songo
yang ada di Indonesia ?
Untuk menjawab sejumlah
pertanyaan diatas, kita harus mengetahui terlebih dahulu, apakah Khidhir
as itu nabi atau wali ? Sampai sekarang masalah ini, masih menjadi
polemik yang hangat dikalangan sebagian orang. Dan hal ini, sangatlah
wajar karena tidak ada teks Al-Qur’an maupun Hadist yang menyebutkan
secara terus terang tentang status Khidhir as. Oleh karenanya kita
dapatkan sebagian orang beranggapan bahwa Khidhir as, adalah seorang
wali besar, bahkan mungkin Imamnya para wali. Dan Allah telah
menganugrahkan kepada-nya wahyu dan ilmu, serta hikmah. Sebagian yang
lain berkeyakinan bahwa Khidir as adalah salah satu dari Nabi Allah.
Tapi yang jelas, keduanya sepakat bahwa Khidir as adalah hamba Allah
yang pernah bertemu dan menjadi guru nabi Musa as, yang kisahnya
disebutkan dalam Al Qur’an, tepat di dalam surat Al Kahfi.
Paling tidak, ada dua hal yang menunjukkan bahwa Khidhir adalah seorang nabi.
Pertama : Ibnu Katsir di dalam bukunya “ Al Bidayah wa al -Nihayah “ telah
memberikan alasan yang cukup menarik untuk menolak pendapat yang
mengatakan bahwa Khidhir as membunuh anak kecil yang ditemuanya di
jalan, karena perasaannya mengatakan bahwa anak kecil tersebut, kelak
akan menjadi anak yang durhaka kepada orang tuanya. Ibnu Katsir
menyatakan bahwa seorang wali, bagaimanapun juga derajatnya, tidak
begitu saja berbuat sesuatu yang sangat besar hanya berdasar perasaan
belaka. Karena sebuah “perasaan” tidak boleh dijadikan standar untuk semudah itu menghabisi nyawa anak kecil yang belum punya dosa.
Abu Bakar as Siddiq ra saja-
yang nota benenya adalah pemimpin para wali - masih bimbang , ragu-ragu,
dan berpikir tujuh kali, sebelum akhirnya mantap untuk menjalankan
proyek “ jam’ul quran “ ( mengumpulkan Al Qur’an dalam satu
mushaf ) . Abu Bakar as Siddiq ra bimbang untuk melangkah, karena
kawatir apa yang akan dilakukannya nanti akan menyalahi ajaran
Rosulullah saw. Padahal proyek “ jam’ul quran “ merupakan
proyek yang sangat masuk akal, dan mempunyai dasar pijakan yang kuat.
Walau begitu, Abu Bakar as Siddiq masih ragu dan penuh kekhawatiran.
Lain dengan Khidhir as, yang dengan begitu mudah membunuh anak kecil
yang ditemuinya tanpa sebab apa-apa. Ini semua menunjukkan bahwa Khidhir
as adalah seorang nabi yang mendapatkan wahyu dari Allah swt, sehingga
dengan wahyu tersebut,tanpa pikir panjang beliau segera menjalankan apa
yang diperintahkan kepadanya, walau perbuatan tersebut, secara sekilas
terlihat sebagai sebuah kemungkaran.
Kedua : Nabi Musa as belajar
dari nabi Khidhir as. Ini juga , merupakan indikasi bahwa Khidhir as
adalah seorang nabi. Karena sangat kecil kemungkinannya seorang Nabi
sekaliber Musa as, diperintahkan belajar dari seseorang yang bukan Nabi.
Bagi orang yang hanya membaca
kisah Khidhir as dengan nabi Musa as secara sekilas, akan terkesan
baginya, bahwa Khidhir as lebih pandai dari nabi Musa as. Dan itu, akan
memberikan dampak yang kurang bagus pada keyakinan masyarakat, karena
akan mengesankan bahwa Khidhir as ( yang menurut mereka adalah seorang
wali ) ternyata lebih mulia dari seorang Nabi Musa as, salah seorang
nabi yang mendapatkan julukan Ulil Azmi ( Nabi- nabi yang memiliki
ketangguhan yang luar biasa )
Seseorang yang menyakini bahwa
seorang wali lebih mulia dari nabi, bahkan lebih mulia dari para nabi
yang tergolong dalam kelompok Ulul Azmi, maka orang tersebut telah
terjerumus di dalam kebodohan yang nyata. Keyakinan tersebut merupakan
keyakinan yang sesat, dan merusak aqidah kaum muslimin, karena
beranggapan bahwa seorang wali berhak untuk berbuat sesuka hatinya,
walau perbuatan itu bertentangan dengan syara’ dan akal sehat serta
fitrah manusia. Dia, bisa saja merusak barang milik orang lain dengan
dalih menyelamatkannya, atau bahkan akan dengan mudah membunuh siapa
saja yang dia kehendaki, dengan alasan dia adalah seorang wali, dan dia
meniru apa yang dilakukan oleh Khidhir as.
Pendapat bahwa Khidir as,
adalah seorang nabi, dikuatkan dengan perkataan seorang tokoh Islam,
yang karya-karyanya menjadi rujukan kaum muslimin yang bermadzhab ahlu al–sunnah wa al-jama’ah, yaitu Imam Thohawi, beliau menulis di dalam matan “ Aqidah Al- Thohawiyah “ :
“ Keyakinan kita (ahlu al–sunnah wa al-jama’ah) adalah
tidak memuliakan seorang wali di atas nabi, bahkan sebaliknya kita
berkeyakinan bahwa satu orang Nabi lebih mulia dari seluruh wali “
Begitu juga wali- wali lain
yang telah dikenal luas oleh masyarakat, baik di Timur Tengah, maupun di
belahan bumi yang lain, termasuk di Indonesia sendiri, mereka itu,
bagaimanapun tingginya keimanan dan kehebatan mereka, namun kedudukan
mereka, tetap di bawah para sahabat Rosulullah saw, karena para sahabat
adalah generasi terbaik sepanjang sejarah manusia , tentunya setelah
para nabi dan rosul. Merekalah ( para sahabat ) wali-wali Allah yang
bukan saja bisa menyebarkan Islam , tapi mereka juga telah mampu
menaklukan dunia ini dan membekuk dua kekuatan super power pada waktu
itu, Persi dan Romawi.
Sedangkan wali- wali Allah
yang lain, khususnya yang hidup pada zaman ini, keimanan mereka jauh di
bawah keimanan para sahabat. Apalagi yang mengaku-ngaku bahwa diri
mereka wali, tentunya sangat jauh perbedaannya. Inipun, kalau mereka
benar- benar wali Allah. Karena wali Allah yang sebenarnya, adalah
mereka yang memberikan kontribusi pada masyarakat dengan semaksimal
mungkin. Yaitu selalu berdakwah, beramar ma’ruf dan nahi mungkar,
memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terjadi di masyarakat , bahkan akan
mampu mnggerakkan reformasi yang sebenar- benarnya. Dan tentunya Umat
Islam, dan bangsa Indonesia khususnya, akan bisa merasakan kehadiran
mereka. Namun kenyataannya, justru yang terjadi adalah kerusakan demi
kerusakan, kekacuan demi kekacuan, bahkan suara mereka, yang mengaku
wali- wali Allah, tidak pernah terdengar.Wallahu a’lam.